Selasa, 14 Desember 2010
ahhh... aku.. semua... memang bukan yang sempurna... aku terjebak ditengah2 dari beberapa persimpangan jalan. aku hanya mencoba menjadi yang baik. tapi seringkali keadaan yang menyudutkan menjadikanku si kambing yang hitam. beberapa hal, beberapa lingkungan, membuat aku begitu. sengaja ataupun tidak sengaja mereka. tapi sadarkah mereka bahwa telah merugikan seorang manusia yang tidak mengerti apa-apa?
pertanyaan memilih itu terlontar lagi pada orang kedua setelah aku. dan itu menyakitkan buatku. trauma,, disaat aku sungguh tak mengerti apapun. disaat aku masih sebesar jagung dengan memegang bonekaku yang sedang aku ajak main mereka bertanya, "mau ikut ini atau itu??" disaat kepolosanku masih belum ternoda dan aku harus menghadapi keegoisan masing2 pihak dengan penekananya.
tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah memperlakukan aku seperti ini dari saat belum waktunya mentalku menghadapi itu....
lagi..lagi..lagi..
apa saya yang salah menyerap ilmu mata kuliah psikologi konseling di kampus saya atau memang saya benar2 bodoh tidak bisa membedakan pengaplikasian ini digunakan dalam lingkup selain yang namanya keluarga. keluarga? yaa keluarga yang terbagi dua.
Tuhan, sejauh ini banyak yang sudah mulai saya jaga dari satu pihak. bukan dengan alasan tidak percaya atau bermaksud membohongi. tapi saya hanya tidak ingin terus merepotkan dan ingin mencoba belajar mandiri dengan pengertian yang banyak orang. tapi kenapa malah seberat ini untuk menjalani semua ini Tuhan, apa tindakan yang saya pilih akhir2 ini salah?
jujur semua ini membuat saya sangat tertekan Tuhan. saya tidak tau harus mengadu pada siapa.
Minggu, 12 Desember 2010
masih bertanya dengan semua yang terjadi. masih mencari makna dibalik makna yang tersirat. kedua kaki yang terus melangkah dengan membawa baja diseretnya. bisa bayangkan betapa sulitnya hanya sekedar mengangkat sebelah untuk berpindah kedepan, depan, dan depannya lagi. sambil berharap melihat setitik sinar diujung sana yang masih tak terlihat jelas dengan mata hanya dengan imajinasi. masih entah dimana ini dan akan kemana ini. akan seperti apa bagaimana ini.
meluapkan seluruh kesah kepada kata-kata yang aku susun bukan dengan aturan EYD. mencoba menata dan melihat dengan jelas akar dari pohon yang tinggi dan besar ini. yang terus tumbuh tumbuh tumbuh dan tumbuh lagi.
Senin, 11 Oktober 2010
Sabtu, 09 Oktober 2010
just say it....
banyak sekali cobaan yang datang disaat proses penyelesaian cobaan yang lain. tanpa tau kapan semua brakhir dan akan berakhir bahagia atau menyakitkan. hanya meyakini bahwa setiap manusia memiliki porsiny masing-masing. memiliki jalan hidup yang berbeda. dan takdir yang sebenarnya sudah kita pesan saat dulu sebelum kita lahir. entah kapan dan dimana. tapi yakin itu. hal menjadi pertanyaan ialah.. apakah memang ini takdir? apakah memang dulu memesan atau meminta jalan yang seperti ini? entahlah.. hanya bisa menjalani tanpa tau harus berbuat apa. pikiran masih akan slalu bertanya-tanya, jantung slalu berdetak lebih kencang dari normal, dan nafas masih akan terasa berat. sampe sesuatu itu datang...
Tuhan.. jika ini memang kehendak-Mu, berilah saya kekuatan untuk dapat bertahan dari semua yang terjadi.. Tuhan,, berilah dan tunjukkanlah jalan yang sebenar-benarnya Engkau siapkan untuku... amin.....
nanata...
bandung, 10 0ktober 2010
Senin, 16 Agustus 2010
cerita lama tentang dua kubu itu
Bandung, 16 agustus 2010
Kembali dengan cerita lama. Situasi dimana saya harus berada di posisi yang sungguh membuat saya sakit. Saya merasa terhimpit dengan situasi yang tidak secara langsung menyudutkan saya jika saya bergerak. Saya hanya bisa kembali diam dengan menunggu hasil akhirnya. Suka tidak suka, terima tidak terima akhirnya nanti tidak akan bisa saya rubah.
Ada dua kubu dalam kehidupan saya. Kubu yang keduanya berarti sekali bagi saya. Kubu yang sering sekali bertentangan padahal keadaan mereka sama tapi tidak mau saling mengalah atau mengerti. Kubu yang tidak akan pernah menang salah satunya ataupun saya pilih salah satunya. Saya terus berusaha dan mencoba untuk tetap berada di tengah dengan ruang sempit yang menyesakkan. Tapi itu membuat saya sedikit lebih tenang daripada saya harus memenangkan salah satu kubu diantara keduanya.
Saya rela jika saya terus terhimpit disudut itu daripada salah satu kubu itu merasa menang dan kubu satunya merasa tersingkir. Karena sampai kapanpun dan bagaimanapun keduanya sama pentingnya dan sama berartinya bagi saya.
Saat ini memang tidak terlalu tampak persikutan antar keduanya. Tapi situasi ini jika terus begini saya sudah bayangkan apa yang akan terjadi nanti yang akhirnya pasti saya semakin terhimpit lagi. Situasi seperti ini memang bukan baru sekali ini. Namun, setiap kali terjadi perasaan terpojok dan kesakitan ini tidak pernah bisa saya hilangkan.
Sekarang tanpa keduanya berperang secara terbuka saya tetap merasa terhimpit. Saat ini hanya ada antara saya dengan kubu satu dan saya denagn kubu satunya lagi. Bukan lagi antara saya dengan kedua kubu tersebut. dan ini yang bertentangan. Situasi yang membuat saya sangat jatuh dan merasa tertampar dengan keadaan. Seperti dahulu, saya tidak akan mengambil tindakan banyak. Karena mungkin saat ini. Saya masih ingin melindungi diri saya untuk tidak tergores dulu oleh peperangan ini.
Minggu, 25 April 2010
Pemikiran Abnormal Gw
Berhubung waktu itu belum bisa dimasukin ke blog. Jadinya gw tulis dulu dikertas HVS yang gw pake sebenarnya buat nulis rangkuman gw. :p
Met Baca.. Jangan dimasukin hati. Masukin otak aja.
18 April 2010
Semakin saya membaca dengan sungguh-sungguh. Hampir setiap jenis abnormal rasanya ada pada diri saya. Apa anda juga begitu?
Semakin mendalami, mempelajari, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Apa anda juga begitu?
Saya mendapatkan sebuah kalimat begini "Karena kita tidak memiliki contoh manusia normal yang ideal maka sulit mengklasifikasikan normal dan abnormal". Yah.. kira-kira begitu isinya. Tapi justru karena saya semakin membaca buku abnormal ini, rasanya semakin luas saja yang termasuk kedalam abnormalitas itu. Bahkan kadang saya merasa abnormal itu terlalu luas porsinya daripada normal itu sendiri. Yang sebenarnya, pada intinya normal itu ialah "sama seperti pada umumya" (dosen Abnormal saya juga bilang begitu). Dan abnormal ialah berbeda dari umumnya.
Tapi, coba kita ambil contoh Orang yang sakit mental atau sakit jiwa (sebutan untuk orang gila bagi kami orang psikologi). Ketika mereka yang sakit mental itu berada ditengah-tengah orang yang tidak sakit jiwa atau normal. Sudah jelas bahwa mereka itu pasti orang sakit jiwa. Ya pasti semua orang pun tau jika mereka bertemu orang sakit jiwa itu di pinggir-pinggir jalan mereka pasti berpikir atau mengucap "orang gila tuh" dengan kata lain menurut kami (orang psikologi) abnormal. Tapi, dosen saya bilang "Kalau kita yang bisa dibilang normal, berada di rumah sakit jiwa atau di tengah-tengah orang-orang yang sakit jiwa, artinya kita yang abnormal". (jika dilihat menurut pengetrian normal yang tadi). Bisa begitu ya? Padahal, orang yang sakit jiwa itu sudah jelas ciri-cirinya alias simtom-simtomnya ada dalam teori-teori abnormal. Tapi kenapa orang yang tidak sakit jiwa yang berada ditengah-tengah orang sakit jiwa bisa dikatakan abnormal pula?
Jadi, mungkin menurut pemahaman saya yang masih mendalami ilmu jiwa atau psikologi ini. Sebenarnya sebutan abnormal/normal bisa kita lihat dari mana kita mengambil pengertiannya.
Lalu, bagaimana menurut anda?
Selasa, 06 April 2010
Maaf.. Egoiskah Aku?
Bukan aku tidak memikirkan.
Maaf..
Bukan aku tidak mau berusaha.
Maaf..
Bukan aku tidak peduli.
Maaf..
Bukan aku tidak ingin.
Maaf..
Bukan aku tidak senang.
Dan.. Maaf..
Bukan aku tidak sayang.
Tapi aku hanya tidak ingin tertekan lagi untuk saat ini.
Egoiskah aku?
Senin, 15 Maret 2010
Ketika Seorang Anak Harus Memilih
Oke, just share…
Siapa sih anak yang ga sayang sama orang tuanya? Saya rasa ga ada. Sebenci-bencinya seorang anak. Sedendam-dendamnya seorang anak sama orang tuanya, pasti di dalam hatinya mereka sangat sayang sama orang tuanya. Contoh yang lagi hangat sekarang adalah Juwita, anaknya Annisa Bahar. Setelah sekian lama, dan setelah apa yang dulu pernah dia utarain di tivi, tetep kan kalo ada apa2 larinya kesiapa lagi? Dia pulang ke ibunya.
Oke, itu salah satu contoh aja. Tapi yang ingin saya bahas disini adalah, ketika seorang anak diperebutkan oleh kedua orangtuanya ataupun ketika si anak harus memilih diantara kedua orangtuanya. Apakah setiap anak dapat melakukannya?
Dengan berbagai kondisi, dan berbagai cara, kedua kubu antara ayah dan ibu yang ingin anaknya ada dibawah asuhan mereka saling bersaing. Keduanya saling memperebutkan hati si anak dengan beribu2 cara. Mengiming-ngimingi anak dengan kesenangan, harta, ato kebahagiaan yang tulus. Apapun pasti akan dilakukan demi memperebutkan hati si anak.
Tapi apakah mereka berpikir? Apakah mereka memahami? Apakah mereka menyadari? Bahwa anaknya merasa tersiksa. Bahwa anaknya merasa tertekan dengan keadaan yang tidak henti-hentinya menyudutkan dirinya. Bahwa anaknya terluka diperebutkan oleh kedua orang yang sangat ia cintai di dunia ini. Bahwa anaknya menangis berada ditengah-tengah situasi yang tidak pernah setitikpun dibayangkan oleh si anak.
Kondisi yang menyudutkan si anak, dengan kata lain, secara tidak langsung si anak hanya berada di antara dua pilihan. Memang bisa saja terjadi tanpa disengaja dan disadarai oleh orang tuanya. Contohnya, si anak yang sedang bersekolah dikota ayahnya. Namun, tetap tinggal sendiri alias kos. Lalu, ketika si anak ingin pulang ke kota asalnya bertemu dengan ibunya untuk sekedar melepas rindu sesaat. Si ayah mengiming2 jika si anak tidak pulang maka akan dibawa liburan. Dan kebetulan si anak ingin pulang masih di hari sekolahnya. Si anak berat untuk memutuskan, si anak ingin pulang, tapi dia masih harus sekolah. Tapi jika tidak pulang si anak takut di sangka memilih ayahnya oleh ibunya. Jika pulang, takut ayahnya pun berpikir hal yang sama. walau memang si anak dibesarkan oleh ibunya. Tapi tetap si anak berusaha untuk tidak menyakiti siapapun. Tapi justru dengan itu, si anak yang tersakiti hatinya.
Lalu, jika ini terjadi, apa yang semestinya dilakukan oleh si anak? Karena, jangankan untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. Belum apa-apa saja orangtuanya pasti sudah bertengkar walau tidak dengan langsung. Bahkan terkadang, kedua orantuanya tidak mau berkomunikasi secara langsung untuk membicarakan masalah anak-anaknya ini. Tapi justru melalui perantara dan perantara ini adalah si anak. Pernahkah terpikir ini menjadi tekanan jiwa bagi si anak?